Pulang dan Pembelajaran

Ini adalah pulang ternekatku, jika kuingat.

Sabtuku di semester ganjil yang tua ini, diisi dengan kuliah hingga menjelang ashar.

Oke aku pulang, saat pagi tadi aku masih bimbang, karena sederet mungkin di angan.

Sebenarnya sabtu ini adalah hari terakhir penyelesaian proposal PKM, tapi karena satu dan lain hal, di mulai dari ganti judul hingga ganti pembimbing, siang itu, dengan sisa semangatku yang masih membara, proposalmu dua-duanya tidak bisa di upload besok, dan aku hanya mengiyakan, sambil peluh menetes melalui mataku, yang tidak bisa ditahan.

Maka dengan peluh di mataku, aku meluapkan semuanya di kamar mandi, biar tak ada yang lihat, dan degan mata sembab menuju ruang kuliah, dan tentunya aku sudah telat.

Saat masuk kelas, aku mencoba tertawa, dan duduk di barisan ke dua pojok, dan seseorang berbalik, habis bangun tidur ya? Dan aku hanya tersenyum.

Maka 2 SKS adalah waktu formalitas, asal dapat tanda tangan, sebab aku sudah tidak masuk dua kali karena kegiatan, dan di akhir kelas, mbak anterin ke terminal yaa, aku mau pulang, dan temanku yang baik menyanggupi, alhamdulillah.

Maka kepulangan yang awalnya bimbang, menjadi terealisasikan, mengingat hari Senin aku UTS, ahhh PKM ku yang malang, menghantarkanku pulang hehe

Perjalanan pulang, dan aku yang ketiduran hingga keblabasan, dannnn tereret padahal Bapakku sudah menunggu di perempatan jalan tempat aku turun biasanya, terlebih beliau tidak bawa HP, hmmm, maka jadilah aku mencoba jalan kaki, bertemu indom*rt, bertemu mbak-mbak baik, yang mau milihin harga dan mesenin g*jek, semoga Allah membalas kebaikan mbak, dan sampai perempatan, Bapakku yang ternyata sudah menunggu dari habis maghrib (aku tahu setelah Ibu cerita), padahal aku sampe situ jam 8 nan lebih, dan beliau tidak marah, dan menyambut dengan senyummm.

Ahhh, maasyaAllah, lope-lope sekali.

Kesedihanku hari itu, semoga menjadi pupuk bertumbuhku, aamiiiin.

Iklan

Pen-cari-an

Menemukan selalu bukan hal yang mudah. Menemukan adalah perjalanan panjang sebuah destinasi yang acap kali tak tahu menahu ujungnya.

“Apa yang k(a)u cari dalam hidup? Apa yang akan k(a)u lakukan dalam hidup? Apa hal terbaik yang bisa k(a)u lakukan? Bagaimana melakukannya?”

Pertanyaan demi pertanyaan datang, silih berganti dan tak jarang tak berjodoh pada jawaban. Lantas jika begini, harus bagaimana lagi. Berharap akan ada suara gaib menjawab (?)

Pasrah saja! Jalani saja, suatu saat semoga Sang Maha berkenan menuntunmu pada jawaban. Sebuah baris dari Sang Pemimpi karya Andrea Hirata bergema, seringkali berbuat yang terbaik pada titik kita berdiri sekarang adalah bentuk dari sikap realistis.

selamat berproses! selamat mencari!

Kos, 14 Januari 2018

Pemahaman Baik

Dulu, sewaktu SMA, sering sekali ku dengar tentang ‘pemahaman yang baik’, frasa yang tak asing, yang ku dengar dari Tere Liye. Dan ku kira, aku benar-benar meresapinya, tapi melihat kemarin aku nguringuring di dasborku, aku tahu aku lupa tentang ini, atau aku memang tak pernah memilikinya sebagai bagian dari diriku (?).

Maka sepulang kuliah ini, ku ambil nasi, sayur, dan ku buka tumblr, berharap perut, otak, dan hatiku terasupi. Dan benar saja, di dunia yang maya ini, masih saja banyak orang yang bersemangat mengingatkan dalam kebaikan-kebaikan. Bahwa hidup ini memang harus dipahami, bukan sekedar dimengerti. 

Bahwa tidak ada yang salah dengan idealitas yang kita pegang, bahwa ujian itu mutlak adanya, bahwa semangat itu wajib dirawat, bahwa yang nyata memang sering hampa, tapi disitulah peran kita, untuk memaknai dan menghikmai.

Salam berproses.

Kos, 18 Oktober 2017

(haruskah) Menyerah

Sudah beberapa pekan ini aku mengajar privat di sebuah perumahan yang cukup jauh dari kosku, kira-kira bisa ditempuh dalam waktu 20 menit dengan jalan kaki, dan sore ini, aku berjalan dengan tergesa, menuju ke rumahnya. Berharap ini les kedua kalinya dalam bulan Oktober, berharap ada uang untuk ditabung untuk beli hp, sebab jika kau tahu, saat ini hp yang kupakai adalah hp pinjaman. Kendati begitu, aku bersyukur, alhamdulillah. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk temanku yang meminjamkan hpnya, aamiin. Dan kau tahu apa yang terjadi? Sesampainya aku di sana, dan mengetuk pintu serta mengucap salam berkali-kali, tak ada jawaban. Hingga aku lelah dan duduk di teras. Setelah sekitar setengah jam, ku buka hp, dan adek les ku mengirim pesan,

“Mbak nggak jadi les, lesnya hari kamis aja”

Ya Rabb, ingin ku marah, ingin ku teriakkan,

Nggak usah les lagi, ganti tentor aja!

Tapi apalah daya.

setelah dipikir-pikir (sambil perjalanan pulang ke kampus), ada yang salah dengan niatku.

Walaupun aku beridealitas  ngelesi untuk menyebarkan ilmu, tapi kenyataannya finansial lebih  hijau alias menggoda dan bahasa halusnya memotivasi. Aku tersadar ada yang salah, tapi aku juga tak bisa menyangkal yang nyata.

Harus bagaimana aku?

Aku (jelas) sudah menyerah pada idealitas.

Haruskah juga menyerah pada realitas? 

Ataukah, aku harus memperjuangkan keduanya?

kos, 17 Oktober 2017

Pemahaman

Kecewa

Oleh : Pocerika bunga kelima

 

Di bawah gardu biru

Kurayu sukma untuk bercakap

Dan tutur keluh mengalir bergelayut

Membersamai bah air mata yang tumpah

 

Menggerutui kurang kerasnya ia bekerja

Melihat sisi hitam dari putihnya

Menyayangkan finansial yang apa adanya

Dan memusingkan keadaan yang tak berjeda

 

Dan lembayung ingatan menguak

Pada gemeletuk biji salak

Dan tangan kasar yang penuh luka

Peluh deras berkucuran

Serta kulit yang hitam legam

 

Dan lembayung ingatan bersambut

Pada gaung deru mesin jahit

Tik tak, tik tak . . .

Menyulap jutaan benang dan kain

Menjadi gaun

 

Dan tersadar . . .

Ada yang salah dengan rasa

Kecewa pada rasa kecewa

Karena tak seharusnya kecewa singgah

Dan membuta pada jasanya

 

Kos, 26 Agustus 2017my home

Dan aku tersadar, as long as i life, love them. (titip salam buat bapak ibu) Allahumaghfirlii wali waali dayya warhamhumaa kamaa rabbayani saghiira

Solo Raya, 02 Muharom 1439 H

Kecewa (juga rasa) ?!

Aku mencintai beliau, ibu dan bapakku. Aku punya harapan besar pada beliau. (bukan) Aku meletakkan semua harapanku pada beliau. Aku berharap beliau dalam kondisi yang harmonis, aku berharap beliau saling memuji di hadapanku, aku berharap beliau selalu tersenyum di hadapanku, aku berharap beliau tidak pernah berkeluh kesah di hadapanku. Harapanku memang berat (bukan?). Aku jahat sekali (ya?).

Buk e, pak e, aku mencintaimu, dan aku tersedu, karena harapanku yang bisu, mengendap, kelabu terkubur di dalam hatiku.

Aku mencintaimu, dan aku tahu cintaku padamu, tak mungkin menandingi cintamu padaku.

Tapi ya Rabb, demi mengingatmu, saat aku pulang dengan segenap rasa di hati, rinduku padamu, yang entah mengapa menguap saat engkau berdebat di hadapanku. Aku mencintaimu, mencintai kebahagiaanmu, atau mencintai ketenanganku? (melihat engkau harmonis).

Tapi ya Rabb, sungguh aku membenci ini, membenci diriku yang kecewa pada beliau. Aku takut, aku takut tidak merindukan beliau lagi, aku takut tidak merindukan rumah lagi, aku takut pada hatiku, lukaku.

Kecewa bagiku adalah hal yang wajar, kecewa tak bisa  masuk ke sekolah impian mungkin. Tapi kecewa pada orang tua?! bagiku itu menyakitkan, dan membuatku kecewa pada diriku sendiri!

Ah tulisan ini semakin ngawur!

Aku ingin bergegas, bergegas mengobati luka, semoga aku segera sadar, semoga aku segera paham, seberapa aku mencintai beliau (seperti apa pun beliau). Barakallahufihumaa.

Allahumaghfirlii wali waali dayyaa, warham humaa kamaa rabbayanii shaghiiraa. aamiin.

 

Solo Raya, 17 Agustus 2017

Merdeka adalah saat kita terbebas dari belenggu kekecewaan.

Masa Depan

Tak ada yang bisa menerka masa depan. Kau tau dimana sekarang aku duduk? Aku tak lagi duduk di atas keset, kini aku duduk di atas karpet, pun tak lagi di Semarang, pusat peradaban Jawa Tengah, melainkan di kota yang kukira, dulu, begitu asri, Solo Raya. Ya, aku tak pernah tahu kedepannya akan seperti apa, saat ini pun aku (kembali) berproses menjadi pendidik. Ceritanya panjang. Semoga lain waktu aku bisa membagi ceritanya denganmu. See you.